Sempurna sekali, bukan?” kata Bu Yena dalam kerlingnya. Berdebar aku melihatnya. Bokepindo ooouhhhh! Aku segera menyelinap ke belakang mencari WC yang dimaksud, melewati lorong-lorong sempit tumpukan stok barang perusahaan.Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, aku bermaksud kembali ke depan melewati lorong-lorong sempit itu. Ketika sampai di hotel, SMS Bu Yena datang lagi, “Kamu sudah sampai hotel? Ia seorang lelaki Cina tua, bos sebuah perusahaan peralatan masak di Surabaya.“Kamu tetangga Pak Sulaiman?” Tanya Pak Tan.“Benar, Pak. 5 juta rupiah!” kata Bu Yena.“Untuk saya?” tanyaku heran.“Ya, untuk kamu,” tegas Bu Yena.“Wah, untuk apa ini, ya, bu?” tanyaku tak mengerti. Bu Yena makin dekat ke arahku.“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Bu Yena. Dua puluh menit kemudian, masih dalam perjalaan balik ke Surabaya, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.“Andi, berapa umurmu?” Tanya Bu Yena tiba-tiba.“24 tahun, bu”“Sudah menikah?”“Sudah, Bu. Dan aku benar. Terussss. Tak bisa kujelaskan rintihan, desahan dan




















