Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Bokepindo Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik. Ternyata tak terlalu susah karena memang Pipit tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Kok nggak ada lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Sempat Pipit bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..“Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit mau ikut sampai terminal bis.




















