“Chie.. Bokep indo viral ah…?”
Chie merasakan kebingunganku. Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin juga. Meninggalkan Jay. “Ray, aku menyayangimu.”
Ah, Chie. “Ray, kamu tahu?”
“Apa?”
“Masalah Jay. Egois.”
Tuduhan itu membuatku terdiam. Kulepaskan kerah bajunya. “Aku merindukan saat-saat ini.”
Kulihat Jay tersenyum dan memejamkan matanya. Sayang. “Aku merindukan saat-saat ini.”
Kulihat Jay tersenyum dan memejamkan matanya. “Ach,” erangku. Chie memanfaatkan salah satu prinsipku, yaitu bahwa aku takkan berhubungan seksual terang-terangan dengan gadis yang masih perawan, sehingga ia mencoba membuatku percaya bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Aku pun juga. “Ah.. Sial benar. Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. “Hadiah ulang tahun yang indah…” tawaku. Sepi kok!” Jay tertawa kecil. Kaki-kaki Chie mulai melingkari pinggulku yang bergerak-gerak menekan. Chie juga bercerita padanya (aku tak tahu bagaimana perasaan Jay saat itu) bahwa ia ingin menyerahkan keperawanannya padaku, sebelum menjadi milik orang yang sama sekali asing baginya. Perkenalan kami sangat singkat, namun dari tatapan mata masing-masing aku




















