“Aku tak berani jajan, Mbak. Bokep jilbab akkkhhh …. Tangan kiriku yang semula ada di atas bahunya yang terbuka, mulai naik ke arah dagu, pipi dan merabai bibirnya. ekhhh…” desahnya dan kembali menelan penisku sambil jarinya semakin dalam masuk ke analku, ia masukkan dan keluarkan semakin cepat hingga aku semakin tinggi melayang-layang dalam alam kenikmatan. Tetapi sewaktu bibirnya bergerak naik ke leher, hembusan napasnya kurasa semakin dekat ke dagu dan pipiku, aku membuka mata dan menatap wajahnya. Bagaimana kalau tak ada acara, Dik Agus temani Mbak nonton? Ok, sampai jumpa.” Aku senang sekali mendengar ucapan Direktur Utama kami itu.“Wah, kalau Mbak Ina setuju, berarti besok kami dapat seharian mereguk anggur kenikmatan di atas ranjangnya,” pikirku.Setelah itu, kuputar nomor telepon rumahku. “Lebih enak tidur berdua gini, bisa makin fresh kalau balik ke Jakarta ya?”Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan memainkan jari-jarinya di dadaku.




















