Dia menerima gelas besar itu sambil tersenyum mengerling lalu menghirupnya.“Saya kan dapat lagi ya Tante”, tanyaku menggoda. Bokeb Karena Tante Ratih itu putih. Namun karena melihat aku menguap, Tante Ratih pergi ke kamar dan kembali membawa bantal, selimut dan sarung. Tapi mana aku mau? Dia masih tidak ber-celana dalam dan tidak ber-BH. Dan sebentar kemudian Tante kembali membawa gelas berisi air putih.Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang.“Enak sekali Tante”, bisikku dekat telinganya.“Telor mentah dan madu lebah?”, tanyanya.“Bukan. Dia bakalan marah sekali anaknya Tante makan”, katanya tersenyum masih tersengal-sengal menahan berahi yang belum tuntas penuh.Kontolku berdenyut lagi mendengar ucapan Tante itu, apa memang aku yang dia makan bukannya aku yang memakan dia? Wajah cakep. Aku sadar aku sudah keburu habis sementara merasa Tante Ratih masih belum apa-apa, apalagi puas.Dan tiba-tiba listrik menyala. Cahaya kilat dari kisi-kisi di puncak jendela membantu aku menemukan keberadaannya dan dia membimbing




















