Memang Inge tetap tak mau panggil aku dengan sebutan lain, ia pilih dengan “Pak” karena takut salah ngomong kalau di kantor nanti. Segera Inge memakai roknya lagi, demikian juga aku. Bokeb Inge tetap manja, jalan sambil merangkul pinggangku dengan badannya disandarkan ke tubuhku. Kulihat ada lendir kental mirip cendol menempel di ujung telunjukku, segera kujilati lendir itu dan kutelan bersama makanan yang disuapkan oleh Inge. memang kuatur demikan supaya tangan kananku bisa dekat dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke atas untuk kuraba-raba. katanya, dan “Bye… bye….” Pada keesokan harinya saya bertemu Inge di kantor dan kita bersikap biasa-biasa saja sehingga tak ada teman yang curiga kalau kita telah pacaran semalam. asal jangan yang malam-malam, paling lambat yang pukul 7.00 malam”, jelas Inge. Rupanya filmya kurang bagus, sebab sampai saat mulai penontonnya hanya sedikit. ceekkk…. “Tolong Inge diberi air maninya Pak” pintanya.




















