kataku.“Iya itu”Ya ampun, aq membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas tempat tidur yg putih. Si Penis melemah. Bokep indo live Mbak Iin sudah turun. Creambath? Kalau kini aq berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yg membasahi leher, pasti karena aq terlalu terbuai lamunan. Tetapi, aq harus berani. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aq membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Kring..!“Mbak Iin, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Sudahlah. Aq tertipu. Lalu asyik membuka tabloid. Wajahku merah padam. Tangannya halus. Keringatnya meleleh seperti yg kulihat sekarang. Aq tahu di mana ruangannya. Itu artinya ia tdk mau diganggu. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Inilah kesempatan itu. Aq masih ingat sepatunya tadi di angkot. Aq lupa kelamaan menghitung kancing. Tdk pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Aq tdk berpakaian kini.




















