Ia seolah tak memperdulikanku, menolehkan kepalanya ke sisi yang lain. Bokepindo Aku tersenyum dan mengangguk. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, hingga dadanya menempel di lenganku. Canda itu membuat kami serasa sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Ia menjambak rambutku. Ia seolah tak memperdulikanku, menolehkan kepalanya ke sisi yang lain. Lalu ia menarik sebelah kantung matanya dengan jemari telunjuk, sambil mengeluarkan lidah. Ia balas menatapku. “Apa kerjamu tadi?”
“Di sebuah perusahaan distributor material bangunan.”
“Oh ya, aku lupa. Kurasa aku terlalu emosionil.”
“Tak apa-apa,” balasku tersenyum. Ia mencium bibirku. Kutekan saklar lampu. “Dingin kalau bisa.”
Saat aku kembali dengan dua gelas air dingin, kulihat ia sudah membuat dirinya nyaman di ujung sofa L. Ketika kuhampiri, ia tersenyum padaku. Benar rupanya, kau tak bisa berdansa.”
Aku mendengus malu. Lengannya terulur meraih pundakku. Kulihat ia masih berdiri menghadapku dengan senyum di depan stereo set. Segala sesuatu melintas seketika. Saat itu ia tampak sangat cantik, sebegitu




















