“Sweety… this one is for you!” kataku sambil mulai memainkan tuts-tuts piano. Bokep barat Tak jarang pula aku harus menerima hajaran dari ayahku kalau aku berusaha melindungi ibuku. It’ll be a moment and not too long.”
“Okay…”
Aku berjalan menuju baby grand piano yang ada di sudut ruangan. “It’s all right, Baby… Go back to sleep. Yo mempunyai darah Belanda dari ibunya. Perutku dengan kurang ajarnya berkeruyuk. Dan yang membuatku semakin menyesal adalah aku tidak sempat melihat jenazahnya, karena telah dikuburkan di sebuah pemakaman umum di Jakarta. Aku menggerayangi tubuh Yo, dan dia tidak menolak. Aku sangat marah saat itu. Seret dan meleset. Jeanne masih tidur di dekapanku. Aku tahu, Yo sangat mencintaiku. Aku merasa bahagia, sedih, senang, susah, gembira, dan entah apa lagi. Kurasakan ada cairan hangat mengalir di batang kemaluanku. I’m fine.” Kulirik jam dinding di kamar Jeanne yang samar-samar kulihat menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi.




















