” terdengar suara berat seorang lelaki
“Ya dengan siapa Pak? “Aaouh Pak Angkoro, pelan Pak sakit penisnya bapak sih kegedean ” ucap Naya setengah meledek. Bokeb Ujar lelaki itu sambil berdiri menjabat tangan Raya yang tak lain adalah nama samaran Naya. “Jangan cakar lagi ya, kalo tidak rasain ini” Pak Angkoro menggigit puting Naya dengan lembut tapi sedikit menyakitkan. Pak Angkoro menarik Naya yang tadinya mengoral dia dalam posisi jongkok menuju meja biliard dan menyuruh Naya menumpukan kedua tangannya menghadap meja bilirad sementara Pak Angkoro yang berada di belakang Naya mengatur posisi sodokan perdananya. Jakunnya naik turun memandang tubuh Naya yang menggiurkan, kulitnya yang kuning langsat bagai kulit putri kraton meskipun tidak seputih Lyvia tapi pancaran erotik dari mata Naya bagai sinar pancasona pusaka tanah jawa. “Hi Raya, silahkan duduk disini ”.




















