Oh, ternyata Windy masih mengenakan pakaiannya, tidak seperti dalam bayanganku.“Dino, aku bisa pinjem handuk nggak? Bokep jepang aahhgghh..”, Windy benar-benar menikmati permainan lidahku yang mengobok-obok vaginanya dengan buas.“Windy.., boleh aku memasukkan penisku ke dalam” belum selesai kata-kataku, Windy langsung memotong.“Nggak usah minta ijin segala, masukin burungmu yang gede itu ke vaginaku cepat, Dino!”, potong Windy sambil memegang penisku dan mengarahkannya ke lobang vaginanya.“Ahh.. Mulai dari keningnya, matanya, hidungnya yang mancung, pipinya, telinganya, lehernya, dagunya, dan kuteruskan ke bawah sampai akhirnya seluruh tubuhnya basah oleh air liurku dan di beberapa tempat bahkan sampai merah-merah karena hisapan dan gigitan gemasku. Kamu benar-benar hebat Dino.. Sumurnya kering No. Wahh.. Aku lupa bawa nih. Aku ada perlu lagi nih”, kata Windy dari luar.“oh iya, bentar..”Sekarang aku pakai CD & celana pendekku. Airnya banyak kok di sini. Di depan motornya aku melihat dia menggantungkan sebuah tas yang agak besar.“Bawa apaan tuh Win?”,




















