Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Tangannya sangat perlahan mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas lutut. Bokep jilbab Aku? Aku jengkel banget.Hujan mulai turun. Sangat keras. Kepalaku berputar-putar karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Dapat.Jelas, ini sutra. Dan ibu itu balas menggesek. Kepalaku berdentum-dentum. Bukannya apa-apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan masalah orang yang telat membeli tiket seperti pasangan ini.Ibu itu cemberut. Tangan kananku yang nganggur kemudian memimpin tangannya ke penisku yang sudah tegang. Rongga itu seperti tidak berujung. Aku gemetar. Pura-pura tidur, sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah terbuka lebar.Sial. Dan itu membuatku melayang.Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Kepotong deh. Tapi kepepet sih, harus cari upa (”cari nasi”) di Jakarta.Tak lama kemudian bis itu datang juga. Apalagi oleh suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya.




















